Selasa, 06 Maret 2012

Naskah Drama "TRALALATRILILI"


I.       Judul                      : Tralalatrilili
II.    Tema                      : Persahabatan
III. Penokohan :
1)      Tra
2)      Lala
3)      Tri
4)      Lili
5)      Fauzia
6)      Bu Kepala Sekolah
7)      Pak Guru Yusuf
TRALALATRILILI
Pagi hari di sekolah di dalam kelas ada 3  orang murid yang sedang berbincang-bincang. Anak-anak ini mempunyai geng yang bernama ‘Tralalatrilili’ yang anggotanya ada 4 orang, yaitu Tra, Lala, Tri, dan Lili.
Tra                   : (ceria) ”Pagi, sobat!!”
Lala                 : “Pagi, Tra!”
Tra                   : “Ngomong-ngomong kayanya ada yang kurang deh!”
Lala                 : “Iya, yah.”
Lili                   : “Ya iyalah ada yang kurang. Orang Tri belum datang.”
Tra                   : “Oh iya. Pantas saja sepi banget biasanya kan dia yang paling bawel!”
Tiba-tiba Tri datang, dengan wajah murung tanpa senyum sedikitpun dan langsung duduk ditempat duduknya.
Lala                 : “Tumben banget si bawel baru datang?”
Lili                   : “Iya nih.. Kesiangan ya?”
Tri                    : “Iya. (sambil termenung)
Tra                   : “Kamu kenapa Tri? Nggak biasanya kamu seperti ini. Biasanya kamu pagi-pagi udah buat kita bertiga ketawa.”
Lala                 : “Iya nih! Kamu sakit ya, Tri? Kayanya kamu lesu banget.”
Lili                   : “Tau nih.. Ditanyain aja jawabannya singkat banget.”
Tri                    : “Nggak kok, teman-teman. Aku nggak kenapa-napa, cuma lagi malas ngomong aja.”
Tra                   : “Ya udah Tri kalau memang kamu nggak kenapa-napa. Kita cuma takut aja kalau kamu lagi kenapa-napa. Apa kamu lagi ada masalah atau kamu sedang sakit tapi nggak mau cerita?
Tri                    : “Nggak kok.. Pokoknya aku nggak kenapa-napa. Kalian nggak usah takut.”
(Bel masuk berbunyi). Pak Yusuf masuk ke dalam kelas karena sudah waktunya untuk mengajar.
Pak Yusuf         : “Pagi anak-anak!!”
Anak-anak       : (menjawab serentak) “PAGI..”
Pak Yusuf         : “Baik pada hari ini kita akan melanjutkan materi yang minggu lalu Bapak berikan. Tapi sebelumnya kumpulkan tugas kalian!”
Anak-anak       : “IYA PAK.”
Tri                    : “Pak, buku tugas saya tertinggal di rumah..”
Pak Yusuf         : “Tertinggal?!? Kamu tidak membawa tugasnya, apa tidak membuatnya?”
Tri                    : “Saya tidak membawanya, Pak. Sungguh, saya tidak berbohong.”
Pak Yusuf         : “Ya sudah kalau begitu. Kamu tidak akan mendapat nilai seperti teman-teman kamu!”
Tri                    : (diam)
Lili                   : (berbisik-bisik) Tri, kamu nggak bawa tugasnya? Nggak biasanya kamu kaya gini.”
Tri                    : “Iya Li, aku lupa. Semalam aku tidur malam banget. Jadi aku lupa memasukkan ke dalam tasku.”
Pak Yusuf         : “Bapak akan berikan kertas yang isinya materi-materi penting untuk kalian pelajari.”
Pak Yusuf membagikan kertas lembaran itu, anak-anak pun membacanya dan memahaminya. Lalu ia memeriksa tugas yang dikumpulkan tadi. Tiba-tiba Ibu Kepala Sekolah datang dan masuk ke dalam kelas.
Kepala Sekolah            : “Permisi Pak Yusuf, saya minta waktu sebentar.”
Pak Yusuf                     : “Silahkan Bu, jam mengajar saya juga sudah habis.”
Kepala Sekolah            : “Anak-anak, maaf Ibu mengganggu belajar kalian. Ibu ke sini ingin memanggil anak yang bernama Tri. Yang bernama Tri acungkan tangan.”
Tri                                : (mengancungkan tangan) “SAYA, BU!”
Kepala Sekolah            : “Ikut ke ruang Ibu sebentar. Ada yang mau Ibu bicarakan.”
Tri                                : “Baik, Bu.”
Sesampainya di ruang Ibu Kepala Sekolah, Tri duduk tegang di hadapan Ibu Kepala Sekolah.
Tri                                : “Ada apa ya, Bu, sampai saya di panggil ke ruang Ibu?”
Kepala Sekolah            : “Begini, apa benar kamu sudah menunggak SPP 3 bulan?”
Tri                                : “Iya, Bu. Memang saya belum membayar uang SPP selama 3 bulan.”
Kepala Sekolah            : “Kenapa kamu sampai menunggak 3 bulan? Apa kamu sudah diberi uang oleh orang tuamu tapi malah kamu pakai untuk hal lain?”
Tri                                : “Tidak, Bu. Memang saya belum diberi uang oleh orang tua saya karena orang tua saya belum punya uang.”
Kepala Sekolah            : “Ya sudah kalau begitu. Ibu sarankan, secepatnya kamu lunasi karena sebentar lagi kamu akan UAN.”
Tri                                :  “Baik, Bu. Secepatnya saya akan melunasinya.”
Kepala Sekolah            : “Iya. Kembalilah ke kelasmu!”
Tri                                :  “Terima kasih, Bu. Permisi.”
Akhirnya Tri kembali ke kelas. Di dalam kelas, Tra, Lala, dan Lili sedang asyik mengobrol.
Lala                             : “Tri, Ibu Kepala Sekolah ngomong apa sama kamu? Ada masalah ya?”
Tri terpaksa berbohong dengan sahabat-sahabatnya karena dia tidak mau sahabatnya jadi tahu masalah dia dan ikut ke dalam masalahnya.
Tri                                : “Nggak kok. Nggak ada masalah apa-apa. Cuma ngobrol masalah perpisahan aja. Aku kan ketua panitia.”
Lala                             :  “Oh.. Aku kira kamu kenapa gitu.
Tra                               : “Teman-teman, nanti pulang sekolah antar aku ke toko buku, ya? Soalnya aku mau beli novel-novel terbaru sekalian kita shopping.”
Lala, Lili                       : “IYA!”
Tra                               : “Tri, kok kamu diam? Apa kamu nggak mau ikut?”
Tri                                : “Iya Tra, kayanya aku nggak ikut soalnya kan kamu tahu sendiri ayahku lagi sakit, belum sembuh. Jadi aku harus membantu ibu menjaga ayah.”
Tra                   : “Ya sudah kalau begitu.”
(Bel istirahat berbunyi).
Tra                   : “Sudah istirahat. Kita ke kantin yuk! Laper nih!”
Lili                   : “Yuk! Aku juga laper!”
Lala                 : “Aku juga!”
Tri                    : “Teman-teman, aku nggak ikut ya soalnya aku nggak laper dan lagi males ke kantin. Kalian saja ya?”
Lala                 : “Ya sudah kalau kamu nggak mau ikut. Kita ke kantin dulu ya?”
Tri terpaksa harus berbohong lagi padahal dia bukan tidak lapar tapi tidak mempunyai uang. Tiba-tiba tersirat di pikiran Tri untuk mengambil uang Tra yang ada di dalam tas. Uang itu akan digunakan Tra untuk membeli novel dan belanja nanti sepulang sekolah.
Tri                    : “Aku bingung nih harus membayar SPP tapi nggak punya uang. Mau minta sama ibu tapi kan ibu lagi nggak punya uang, sudah habis untuk berobat ayah ke rumah sakit. Apa aku ambil saja uang Tra yang katanya mau dibelikan novel dan shopping? Pasti uangnya cukup! Tapi kan dia sahabat aku sendiri. Maafin aku ya, Tra. Nggak ada jalan lain. Karena aku harus secepatnya melunasi uang SPP.”
Tanpa Tri sadari ada yang melihat kelakuannnya itu, yaitu Fauzia. Dia juga teman sekelasnya. Fauzia tidak sengaja mengintip Tri di pintu kelas.
Fauzia              : (berbisik) “Apa yang dilakukan Tri? Itu kan tasnya Tra. Kok dia mengambil uangnya?”
Fauzia pun langsung ke dalam kelas dan pura-pura tidak tahu. (Bel masuk kelas pun berbunyi) . Tra, Lala, dan Lili masuk ke dalam kelas.
Lili                   : “Sedang apa kamu, Tri?”
Tri                    : “Aku lagi baca buku saja.”
Lala                 : “Kamu istirahat cuma dikelas aja? Nggak bosen, Tri?”
Tri                    : “Nggak, aku kan sudah bilang aku males.”
Tra                   : “Udah. Kok jadi dipermasalahin sih?!”
Tra belum menyadari kalau uangnya hilang. Setelah dia membuka tasnya dan melihat dompetnya terbuka dia langsung kaget karena uangnya hilang.
Tra                   : “Teman-teman, uang aku hilang semua!”
Lala, Lili           : “HILANG?!? (kaget)
Lili                   : “Kamu lupa kali, Tra. Coba cari lagi!”
Tra                   : “Aku nggak lupa! Tadi aku simpan di sini uangnya! Kemana ya?”
Lala                 : “Mungkin ada yang mencuri uang kamu, Tra!”
Tra                   : “Bisa jadi, kalau tidak ada yang mencuri nggak mungkin uang aku hilang.”
Lili                   : “Siapa yang mencuri ya, kok tega banget sih!? Kita laporin ke Kepsek atau Guru aja aja, yuk!”
Lala                 : “Iya, lebih baik kita laporin aja.”
Tra                   : “Lebih baik kita cari dulu. Tri! Kok kamu diam saja sih? Bantuin aku dong ! Uang aku hilang nih!”
Tri                    : “Bukan aku, Tra, yang mencuri!”
Tra                   : “Siapa yang bilang kamu mencuri?! Aku kan cuma minta dibantuin cari.”
Lili                   : “Tri? Kok kamu ngomong gitu? Bukannya aku nuduh kamu ya, dari tadi kan cuma kamu yang ada di kelas ini sampai istirahat selesai!”
Tri                    : “Tapi bukan aku, Li, yang mengambil uang Tra. Benar bukan. Aku kan sahabat Tra dan kalian.”
Lala                 : (jutek) “Biarpun kamu sahabat kita mungkin aja kan?! Ya udah biar kita nggak salah nuduh kita periksa tas kamu. Cuma membuktikan saja.”
Tri                    “Jangan kumohon, JANGAN!! Bukan aku yang mengambil!”
Lala                 : “Kalau kamu nggak salah, kenapa harus takut?”
Tiba-tiba Fauzia bicara dengan mereka.
Fauzia              : “Hei.. Sebelumnya aku minta maaf kalau aku ikut campur urusan kalian..”
Lili                   : “Ada apa, Fauzia?”
Fauzia              : “Aku cuma mau bilang tadi aku lihat Tri membuka tas kamu, Tra, dan mengambil sesuatu yang sepertinya.. uang.”
Tra                   : “Kamu nggak bohong kan, Fauzia?”
Fauzia              : “Iya, aku nggak bohong, aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Maafin aku Tri, aku nggak mau menutupi kejahatan. Jadi aku ngomong apa yang aku lihat tadi.”
Tri                    : ”Fauzia.. aku sama sekali nggak tau kalau tadi kamu melihat apa yang aku lakukan. Tra, memang aku yang mengambil uang kamu. Fauzia benar. Tapi aku terpaksa, Tra! Aku bukan bermaksud jahat.”
Tra                   : “Jadi kamu, Tri, yang ambil uang aku! Ya ampun Tri!! Aku nggak nyangka banget kamu kaya gitu. Kamu kan sahabat aku!
Fauzia              : Kamu terpaksa kenapa, Tri?”
Tri                    : “Aku terpaksa karna aku belum bayar uang SPP 3 bulan. Orang tuaku nggak punya uang, kan kamu tahu sendiri ayahku sedang sakit.”
Tra                   : “Tapi kamu nggak harus seperti ini, Tri!”
Lala                 : “Iya Tri, kenapa kamu nggak jujur aja sama kita. Kalau kamu jujur kita pasti akan bantu kamu.”
Lili                   : “Bener banget! Jadi kamu dari tadi pagi sudah berbohong? Kamu bilang kamu lagi males aja ternyata kamu ada masalah?”
Tri                    : “Tra, Lala, Lili aku menyesal udah nggak jujur sama kalian. Aku seperti ini karna aku nggak mau menyusahkan kalian terus. Aku minta maaf sama kalian. Terutama Tra.”
Tra                   : “Aku maafin kamu, Tri. Karena aku tahu kamu dalam keadaan terdesak melakukan semua ini.”
Tri                    : “Kamu memang sahabat aku yang paling baik, Tra. Aku menyesal sekali.”
Lala                 : “Bagaimanapun seseorang sahabat dia tetap menjadi seorang sahabat!”
Lili                   : “Kamu salah, La.. Diralat ya? Bagaimanapun kesalahan seorang sahabat, kita harus memaafkannya karena manusia pasti membuat kesalahan dan tidak selalu benar. Jadi kita harus tetap jadi sahabat sejati.”
Tri                    : “Makasih ya, sahabat-sahabatku, kalian memang sahabat yang paling baik dan yang paling aku sayang. Makasih kalian sudah mau maafin aku dan masih mau jadi sahabat aku.”
Lala                 : “Iya dong, harus!”
Tra                   : “Ya udah, Tri, uangku untuk kamu saja karena aku tahu kamu sangat membutuhkannya daripada aku.”
Tri                    : “Benar, Tra? Makasih sekali lagi aku ucapkan untuk kamu. Sampai kapan pun juga aku nggak akan melupakan kebaikan kamu.”
Tra                   : “Iya, Tri. Kamu makasih juga dong sama Fauzia karena dia sudah jujur untuk kamu.”
Tri                    : “Fauzia, terima kasih ya atas kejujuran kamu! Kalau nggak ada kamu, mungkin ini akan jadi kebohongan selamanya.
Fauzia              : “Iya Tri, sama-sama.”
Tra                   : “Ya sudah kalau seperti ini kan enak. Tralalatrilili tidak hancur. Tra...”
Lala                 : “Lala...”
Tri                    : “Tri...”
Lili                   : “Lili...”
Tralalatrilili,    : “YEEEEEEEE!!!!”
*** TAMAT ***